Oleh: Endang Suhendar
Saya guru dan saya bangga. Terutama ketika berada di depan kelas, mengungkapkan ide, menguak masa depan, menanamkan optimisme, kerja keras, kerja sama, kepedulian, kejujuran, konsistensi, dan nilai-nilai luhur lainnya yang harus dimiliki seseorang untuk bertahan hidup dan sukses. Luar biasa, mereka pun membuka diri dengan ide-ide, pilihan-pilihan, harapan-harapan, kecemasan-kecemasan, hambatan-hambatan dan banyak lagi ketidakpastian. Kalau saja cukup waktu, mungkin terungkap semua keluh kesah itu. Kalau saja ada kesabaran mendengar, mereka akan terus mengungkap ketulusan isi hati. Kalau saja saya tahu semua jawaban……
Pernah pada suatu kesempatan saya (waktu itu wali kelas) mengajak mereka berkemah di alam terbuka, agak jauh dari sekolah. Semalaman kami berbicara, dari hati ke hati, saling jujur, mengungkap isi hati, satu persatu. Luar biasa! Mereka membuka diri, menangis, saling menasehati dan tak terasa adzan subuh mengalun. Semalaman kami hanya berbicara dan bersepakat untuk saling membantu. Indah! Setelah itu kami berjalan bergandeng tangan bersama selama 2 tahun, kemudian berpisah dengan ikhlas dengan tidak mengucapkan selamat tinggal. Hati kami tetap bersama. Masing-masing selalu ingin tahu “bagaimana khabarnya”.
Di kesempatan lain, saya begitu resah. Sebab, saya tidak bisa menjawab semua pertanyaan mereka. Saya hanya bisa memaparkan pilihan-pilihan, itu pun hanya sedikit. Mampukah mereka bertahan di luar sana? Bisakah mereka menemukan jawaban di luar sana? Dapatkah mereka menemukan masa depan mereka?
Di kesempatan yang lain lagi, saya bimbang. Ketika saya memikirkan kemampuan/capaian akademik mereka (di SMA). Semakin bingung ketika mendengar capaian akademik mereka di perguruan tinggi sana, membanggakan. Luar biasa!
Pelajaran yang dapat diambil:
1. Saya harus jujur. Jujur mendengarkan suara hati saya dan suara hati mereka. Jujur bahwa saya tidak bisa menjawab semua pertanyaan dan harapan mereka. Jujur bahwa saya memiliki keterbatasan. Jujur bahwa saya sangat mencintai mereka dan ingin mereka berhasil. Jujur untuk mengatakan semua isi hati saya kepada mereka. Dengan itu mereka ada di hati saya, demikian sebaliknya. Insya Allah.
2. Saya harus sabar. Sabar dengan apa yang saya miliki. Sabar mendengarkan keluh kesah mereka. Sabar mendengarkan harapan-harapan mereka. Sabar dengan perilaku mereka. Sabar dengan capaian akademik mereka saat ini. Ya, tidak semuanya seperti yang saya harapkan. Tidak semua harapa saya terjadi saat itu juga. Itulah pendidikan, kadang hasilnya baru kentara setelah karun waktu yang cukup lama. Sabar tiada batas.
3. Saya harus tegar. Sejauh urusan siswa, saya harus tegar menghadapi semua hambatan. Hambatan datang dari segala arah, temasuk dari pimpinan saya, teman saya, keluarga saya dan keluarga mereka. Sesungguhnya, kadang masalahnya hanya pada kemampuan berkomunikasi saja. Tetapi, di hadapan mereka, memang saya harus benar-benar tegar, dapat diandalkan.
4. Saya harus mau belajar. Ya belajar apa saja yang bermanfaat bagi semua. Kemampuan mengajar saya dulu didapat dari IKIP, sungguh sangat terbatas dan cukup untuk meghadapi dunia masa kini. Maka saya belajar, membaca, bertanya atau berdiskusi denga teman sejawat atau dengan siapa saja, bahkan dengan siswa.
5. Saya harus berdoa untuk kemajuan siswa. Saya pernah bertanya kepada teman-teman guru, kapan terakhir berdoa untuk siswa? Berdoa secara khusus untuk siswa saya, ternyata lebih mendekatkan saya kepada mereka. Dan hati saya menjadi plong.
6. Saya tetap manusia. Demikian juga dengan siswa saya, punya rasa, punya mata punya telinga……
7. Saya harus minta maaf. Maafkan saya, ya Allah. Maafkan saya, wahai para siswa. Sejujurnya, saya pernah marah, saya pernah mecela, saya pernah mengecam, saya pernah berburuk sangka, saya pernah…
Saya sudahi. Ini hanya perenungan saya terhadap pengalaman saya mengajar selama ini. Bisa berbeda…. Semoga bermanfaat.
Januari 31, 2008 pukul 9:02 am
Renungan yang jujur Pak. Saya sebagai siswa, yang juga sedang belajar jadi guru, bisa mengambil pelajaran dari renungan ini.
Ditunggu tulisan-tulisan berikutnya. Saya yakin banyak momen-momen yang luar biasa, yang bisa ditulis dan dibagikan pada orang-orang.
Februari 6, 2008 pukul 6:36 am
iya terima kasih, mudah-mudahan anda kelak menjadi guru yang baik.
Februari 12, 2008 pukul 8:43 am
Belum bikin renungan lagi nih Pak?
Sekali-sekali, cerita dong Pak sedikit tentang pengalaman mengajarnya.
Misalkan, pengalaman ngajarin siswa yang susah ngertinya; pengalaman nanganin siswa yang buandel abis; pengalaman ngajarin topik tertentu; pengalaman ngelucu pada siswa, tapi bapak pura-pura ga tertawa; pengalaman diskusi sama siswa; pengalamn nangani siswa yang bermasalah; pengalaman bercurhat ria dengan siswa; pengalaman ngajarin topik trigonometri misalnya, pengalaman ngajarin topik lingkaran,
Oh, iya. Saya yakin bapak punya banyak pengalaman. Kalau saja saya yang banyak pengalamannya, sudah saya tulis tuh….
Ya udah, ditunggu deh tulisannya.
Februari 28, 2008 pukul 5:00 am
Al, maaf banget, saya lagi sibuk, mau ujian. Belakangan saya ngajar lagi, di bimbel sekolah. Asyik juga, bercanda ama anak muda. Saya dengar lagi celetukan-celetukan nakal, keceriaan dan keseriusan. Tahun depan saya ingin ngajar rutin lagi, mungkin kls I, biar awet muda.
Kamu gimana khabarnya? Kapan selesai dan balik? Kapan kawin? saya udah baca tulisan kamu yang terakhir, ga kasih komentar, ga bisa.
Maaf (lagi), saya ga bisa nulis. Tulisan itu ada, setelah saya baca tulisan kamu, trus saya ingat kamu, teman-teman kamu, dan yang lain. kebetulan abis ada reuni di anyer. Jadi saya tulis aja. Tp Insya Allah nanti kalau ada waktu dan inspirasi… Sukses ya Al..eh adik kamu si Ihat gimana? Ada yg kls 3 di sma anyer juga ya?
Oktober 20, 2008 pukul 8:51 am
Solihat, sekarang udah semester 7. Mudah-mudahan satu semeter lagi beres.
Adik sy yg kelas 3 sekarang udah mulai masuk semeter 1 di UPI. Jurusan Pendidikan Arsitektur.
Ya udah gitu dulu. Salam, Pak.